Selasa, 04 Juni 2013

Resensi Novel

Judul           : Hex Hall
Penulis          : Rachel Hawkins

Pada awalnya, Sophie Mercer hanyalah remaja biasa yang tinggal bersama ibunya. Hal yang paling luar biasa dari dirinya adalah 'rutinitas' berpindah tempat tinggal bersama sang ibu. Ketika ulang tahunnya yang kedua belas, Sophie baru mengetahui bahwa dirinya adalah seorang penyihir. Kemampuan ini didapatnya dari sang ayah, seorang warlock (penyihir pria). Rupanya, pada mulanya sang ayah menyembunyikan identitas dirinya dari ibu Sophie. Kenyataan bahwa sang ayah adalah seorang warlock baru diketahui ibu Sophie ketika ia mengandung Sophie. Identitas sang ayah yang terungkap langsung membuat ibu Sophie memutuskan untuk berpisah.
Begitulah awal kehidupan Sophie, tinggal berdua saja dengan ibunya, belum pernah bertemu ayahnya,  dan selalu berpindah tempat tinggal. Setelah mengetahui bahwa dirinya penyihir, Sophie harus berhati-hati agar kemampuannya ini tak diketahui orang lain. Namun, saat berusia 15 tahun, ia membuat kekacauan di pesta dansa sekolah. Niat membantu Felicia, temannya, untuk mendapatkan pasangan dengan merapalkan mantra cinta justru membuat identitasnya diketahui seluruh warga sekolah.  Akibatnya, Sophie harus dikirim ke Hecate Hall, sebuah sekolah binaan bagi para Prodigium- penyihir, peri, vampir, warlock, dan shapeshifter. Sophie tak merasa senang, atau bangga, bisa bersekolah di Hex Hall, nama beken untuk Hecate. Pertama, karena Hex Hall tidak bisa dibilang sekolah yang keren. Sekolah ini adalah tempat binaan bagi para Prodigium yang bermasalah. Kedua, Sophie tak punya pengalaman apapun bergaul dengan kaum Prodigium lain.
Karena Sophie kurang pandai bergaul dengan prodigium lain, ia hanya dekat dengan teman sekamarnya, Jenna Talbot, satu-satunya vampir di sekolah. Ternyata teman sekamar Jenna sebelumnya juga seorang penyihir bernama Holly, yang ditemukan meninggal karena kehabisan darah di kamar mandi dengan dua luka di lehernya. Semenjak itu Jenna hampir tidak punya teman lagi karena ia dituduh membunuh temannya sendiri. Penyelidikan pernah dilakukan tapi tak temu titik terang, sehingga Sekolah tidak memiliki alasan untuk mencegah vampire melanjutkan studi mereka di Hex Hall.
Di awal kedatangannya ke Hex Hall, ia diajak bergabung ke kelompok penyihir hitam di sekolah itu. Sebuah trio yang terdiri dari Elodie, Anna, dan Chaston. Kepopuleran dan kekuatan yang ditawarkan oleh trio itu tak cukup membuat Sophie menerima tawaran untuk bergabung. Maka, praktis satu-satunya teman yang ia miliki adalah Jenna, yang justru dijauhi oleh semua murid. Dan karena menolak tawaran Elodie, Sophie pun dibenci oleh trio menyebalkan itu.
Kemudian Sophie mendapati dirinya menyukai Archer Cross, seorang warlock yang sayangnya adalah pacar Elodie. Di tengah-tengah rutinitasnya bersekolah, ia mengetahui fakta bahwa ayahnya mempunyai kedudukan penting di Dewan. Ia juga tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya ketika mengetahui bahwa dirinya adalah target L'occhio di Dio, atau biasa disebut Mata, kelompok pemusnah Prodigium. Anna dan Chaston yang ditemukan terluka parah semakin menambah ketegangan di Hex Hall, apalagi ketika Jenna menjadi satu-satunya orang yang dianggap melakukan penyerangan itu.
Di kelas si Vandy, guru yang amat galak dan bengis. Sophie melakukan kesalahan fatal, yaitu mengatakan bahwa ia menyukai tattoo ungu yang ada di lengan Vandy (sebenarnya tattoo itu adalah tanda bahwa seorang prodigium telah mengalami pemunahan), dan sudah jelas Vandy sangat membenci hal itu. Archer sempat mencoba membela Sophie (yang hanya memperburuk keadaan!) dan mengakibatkan hukuman selama beberapa bulan, membersihkan ruang bawah tanah yang bau dan sumpek.
Selama menjalani hukuman berduaan, Sophie bercerita banyak hal pada Archer, walaupun Archer hanya sedikit menceritakan kisah keluarganya terhadap Sophie. Sampai suatu hari, ketika mereka berdua seperti biasa membereskan ruang bawah tanah (yang selalu berantakan lagi karena sihir!) dan setelah melakukan ‘sesuatu’, Sophie melihat simbol Mata yang terukir di dada Archer, yang menandakan bahwa ia adalah anggota Mata. Tentu saja ia kaget, karena Sophie juga baru mengetahui kalau ternyata ia adalah ¼ demon, incaran Mata yang paling utama. Secepat Sophie melihat tanda itu, secepat itu pula Archer kabur keluar ruang bawah tanah dan menghilang dari Pulau Graymalkin.
Omong-omong, Sophie tau kalau ia adalah ¼ demon dari Alice, nenek buyut Sophie yang secara sengaja diubah menjadi demon di masa lampau. Alice mendatangi Sophie dan mengajarinya berbagai mantra, dan supaya Sophie dapat mengendalikan kekuatannya dengan baik. Awalnya Sophie merasa curiga, bagaimana bisa arwah yang telah lama mati masih bisa bebas berkeliaran di dunia manusia. Akhirnya kecurigaan Sophie terbukti saat Alice hendak menghisap darah Elodie sebagai sumber kekuatannya, lalu mengaku kepada Sophie bahwa ia adalah demon, yang berarti Sophie juga keturunan demon. Akhirnya Alice tewas karena demonglass benda keramat yang bisa membunuh demon dan kekuatan terakhir Elodie yang diberikan untuk membantu Sophie.
Buku pertama endingnya cukup menggantung, jadi kalau penasaran, segera baca buku selanjutnya di Demonglass dan Spellbound! Kalian pasti jatuh cinta dengan Archer & Cal!


0 komentar:

Posting Komentar